aku menulis puisi

Aku memaksakan diri menulis puisi. sudah lama tidak melakukannya. ternyata bisa.padahal sehari-hari selalu mimpi untuk menulis lebih banyak puisi agar bisa dimuat di kompas. Tapi tak pernah jadi. seorang teman mengatakan, puisi yang kutulis berpantun. tapi aku tak peduli. aku hanya ingin menulis puisi yang pernah mengisi hari-hari ku dulu. tapi bukan soal menulis puisi itu yang ingin kukatakan. tapi hasil yang kuraih.

ternyata hasil yang bernas dari apa yang kuinginkan seringkali lahir dari sebuah pekerjaan yang tergesa-gesa dan untuk peruntukan yang jelas.

nah puisi ini aku tulis untuk lomba. aku hanya menulis dua puisi. satu judulnya on/off, dan satu lagi berjudul mak, aku jadi guru. ternyata puisi mak.. menjadi juara. aku tidak kaget.

tapi aku hanya berpikir bahwa ternyata aku masih bisa menulis puisi. masih bisa melahirkan sebuah karya yang lama tak kusentuh. kecuali untuk keperluan narasi foto untuk penerbitan koran.

selebihnya tak lahir. tak ada kata puitis dalam hari-hariku. aku berharap ini menjadi awal, karena aku tidak ingin menghilang dari komunitas yang lebih memiliki rasa ini.

kelompok orang-orang yang mampu merasakan sesuatu yang tak dirasakan orang lain dan diungkapkan dengan bahasa yang penuh perasaan. ya bahasa puisi.

saya menyertakan satu puisi yang tidak menang. tapi ku masih bangga menulisnya.

meski ini puisi lahir dari sebuah pemaksaan tema yang biasanya tidak akan pernah disentuh penyair dalam puisi-puisinya.

on/off
/listrik mengubah segalanya

bila kau kikis rasa congkakmu
kau akan sampaikan kata sesal
betapa malam yang kita lewati
pernah berlalu
tanpa cahaya

“tak ada sesal saat televisi pun
tak pernah kita lihat”

dan tak pernah ada rasa pamrih
saat lentera harus dijejak
saat matahari mulai mengufuk
membasuh sumbu lentera
mematik api menyulut cahaya

“tak kita biarkan malam berlalu
dengan kegelapan”

bila kau pupuk rasa syukurmu
kau basuh hatimu dengan senyuman
betapa tak ternilainya
listrik yang mengalir
energi yang terbagi
dan membawamu ke rumah beribu cahaya

dan tak mesti ada kata tanya
tentang asal-muasal
saat listrik mengubah rona
membawa alam ke segala fana
melontar kata mudah

‘hidupkan tivi, nyalakan radio
dan kita lihat dunia”
seuntai tali yang tercolok
mungkin tak cukup panjang untuk direntang
tapi listrik yang mengalir
tak menyisakan jarak

“tekan on/off dan kita tentukan langkah
listrik akan mengubah segalanya”

Batam, Agustus 2007

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s