Indonesian South Sea Pearl, Harta Karun yang Tak Banyak Dikenal di Rumah Sendiri

south_sea_pearl

SEBAGAI orang Indonesia, kita tentu tahu, bahwa Indonesia, negara kepulauan terbesar di dunia, memiliki kekayaan sumber daya laut melimpah.

Tapi, bahwa satu dari kekayaan sumber daya laut Indonesia itu adalah Mutiara, tentu hanya sedikit orang yang mengenalnya.

Bahkan jika Mutiara itu disebut sebagai (Indonesian) South Sea Pearl, sudah barang tentu bakal banyak yang mengerutkan dahi, sebagai reaksi ketidaktahuan.

Fakta bahwa banyak warga Indonesia yang tidak tahu dengan kekayaan Indonesia untuk perhiasan ini, sangat masuk akal.

Cara sederhana membuktikan popularitas Indonesian South Sea Pearl yang berasal dari kerang Pinctada maxima ini, dengan mencari sumber informasinya. Ternyata hasilnya minim.

Tidak banyak media yang memberitakan.

Dari informasi terbatas itu pula lah, kita tahu bahwa mutiara itu ternyata dari kerang Pinctada Maxima ini didapat dari alam, dan ada juga yang dari hasil budidaya.

Sentra budidaya pinctada maxima yang di Indonesia saat tersebar di sejumlah wilayah di tanah air, seperti Lampung, Bali, NTB, NTT, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Gorontalo, Maluku, Maluku Utara, hingga Papua Barat. (Republika Online/ Kamis, 28 Agustus 2014)

Keterbatasan pengetahuan orang Indonesia soal mutiara Indonesia yang dikenal dengan sebutan Indonesian South Sea Pearl (ISSP) ini, jelas karena masih minimnya ekspose soal mutiara.

Padahal, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dalam websitenya untuk pengantar lomba blog ini menyebutkan, 70 persen perdagangan mutiara di dunia adalah mutiara dari Indonesia.

Fakta ini jelas menunjukkan ISSP memiliki kualitas yang bagus dan ciri khas yang unik, sehingga banyak diperdagangkan.

12-300x200

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti

Data ini bahkan belum termasuk mutiara yang dibawa ke luar negeri lalu dijual menggunakan brand lain.

Berdasarkan data World Gold Council, Uni Emirat Arab merupakan negara dengan tingkat konsumsi emas terbesar kelima di dunia dengan nilai mencapai US$ 2,5 miliar (Dubai Multi Commodity Centre’s).

Konsumsi emas di negara ini di antaranya diimpor dari Indonesia dan India.

Ekspor perhiasan Indonesia seperti emas, perak, logam mulia dan perhiasan lainnya ke negara Uni Emirat Arab merupakan terbesar kedua setelah tekstil.

Ekspor perhiasan pada 2013 mencapai 38 juta US$, meningkat menjadi 502 juta US$ pada tahun 2014 dengan trend peningkatan sebesar 496,3 persen (liputan6.com/5 Jan 2016).

Namun ini sangat ironis. Ternyata ketenaran Mutiara Indonesia di mata dunia, tidak berbanding lurus dengan jumlah mutiara Indonesia yang diperdagangkan.

Indonesia yang telah menjadi produsen terbesar sebagai penghasil mutiara laut selatan sejak tahun 2015 (liputan6.com/21/05/2014), seharusnya saat ini sudah menjadi potensi ekonomi yang cukup tinggi.

42dsc_5310

Pameran perhiasan dari mutiara laut selatan. sumber djpdspkp.kkp.go.id

Andai saja, mutiara ini populer dan dikenal luas di tengah masyarakat Indonesia sendiri.

Meski diakui, Indonesia tidak sendirian sebagai produsen mutiara laut ini di pasar dunia, karena ada Australia, Filipina, dan Myanmar.

Upaya Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti untuk mendorong masyarakat Indonesia membeli mutiara asli Indonesia yang sudah terkenal hingga ke luar negeri perlu didukung.

“Beli mutiara Indonesia. Mutiara Indonesia adalah salah satu yang terbaik di dunia,” kata Menteri Susi. (Antara/13 Oktober 2016).

Imbauan Menteri Susi ini perlu didorong, karena ketika Indonesia South Sea Pearl dalam negeri tumbuh baik di dalam negeri, tentu akan mudah menjadikannya lebih terkenal di luar negeri.

Keterlibatan pengusaha lokal untuk menjual, dan mem-branding mutiara laut selatan ini, jelas ikut mendorong konsumen di pasar dalam negeri untuk mendapatkannya dengan cara lebih mudah.

Bila pasar dalam negeri tumbuh, maka secara tidak langsung, akan berimbas pada meningkatnya produksi dari sentra mutiara laut selatan di sejumlah daerah di Indonesia.

Untuk memperkuat branding Mutiara Laut Selatan Indonesia atau Indonesian South Sea Pearls (ISSP) memang harus dimulai dari dalam negeri.

Upaya lain yang harus dilakukan KKP untuk membuat Mutiara Laut Selatan Indonesia ini lebih “mendunia” di negeri sendiri adalah dengan membuka lebih banyak informasi terkait mutiara ini.

Menggiring media untuk mengakses usaha-usaha sentra budidaya budidaya mutiara, mengakses pelaku-pelaku usaha mutiara, dan mengembangkan sentra kerajinan-kerajinan perhiasan menggunakan mutiara laut selatan ini.

6th Indonesia Pearl Festival yang tahun ini memasuki tahun keenam, mungkin adalah satu dari upaya open informasi untuk menggaungkan mutiara ini di halaman rumah sendiri.

Semakin banyak media yang menulis soal mutiara ini, tentu branding Indonesia South Seal Pearl makin menggaung dan makin dikenal di ranah publik ini.

Lomba menulis blog yang diselenggarakan KKP bekerja sama dengan Dharma Wanita Persatuan dan Asosiasi Budidaya Mutiara Indonesia ini, juga salah satu upaya menarik di tengah era digital dimana semua orang bisa mengakses informasi dengan ponsel di tangan.

Di luar negeri, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) juga membantu untuk promosi dan pengenalan produk-produk mutiara dalam negeri di pasar international.

Bukti bahwa mutiara Indonesia diminati dunia terlihat saat keikutsertaan perlaku usaha Indonesia di Dubai International Jewelerry Week (DIJW).

Keikutsertaan pelaku usaha Indonesia yang difasilitasi Kementerian Kelautan dan Perikanan ini memperlihatkan ketertarikan orang pada produk mutiara laut Indonesia.

Pameran 2015 itu diikuti empat pelaku usaha sebagai co-exhibitors yaitu Rosario Mutiara (Jakarta), MJM Jewellery (Mataram), Maisya Jewellery (Bogor), dan Nurhikmah Pearls (Jakarta), nilai transaksinya ternyata cukup tinggi.

Seperti diungkap Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan KKP, Nilanto Perbowo, nilai transaksi mutiara ISSP mencapai US$ 74.622 terdiri dari butiran (loose) sebesar US$29.190 (39 persen) dan perhiasan (jewellery) sebesar US$45.432 (61 persen) dengan buyers yang berasal dari negara UAE, India, Kuwait, Qatar, Filipina, USA, Belgia, China, dan Jerman.

Melihat ketertarikan buyers yang berasal dari berbagai negara itu, layak jika pelaku usaha perhiasan Indonesia bersiap untuk mengikuti DIJW 2016 ini, yang kabarnya akan berlangsung pada 7-10 Desember 2016 di Dubai World Trade Centre.

Semakin banyak keterlibatan pelaku usaha Indonesia membawa mutiara laut selatan ini, tentu akan semakin menguak tabir lebih besar di dalam negeri bahwa negara memiliki mutiara laut selatan (Indonesia South Sea Pearl) yang pantas kita kenal, miliki dan banggakan.(mairinandarson) 

#6thIPF #6thIPFBLOGCOMPETITION #IloveIndonesiaSouthSeaPearl

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s