Rantau


Cerpen Mairi Nandarson

( sudah terbit di majalah annida )

Kesenangan Amri bertemu dengan sahabat lamanya, Sirul tak bertahan lama.

Gusar. Itulah yang dirasakan Amri belakangan sejak kepulangan kawan sepermainannya itu.

Di lapau1 ia merasa tidak betah untuk berlama-lama bersama Sirul.

Ia lebih suka beranjak dari palanta2 lapau ketika Sirul sudah mulai bercerita tentang rantaunya.

“Betul kata adat kita, karatau madang di hulu, babuah babungo balun, ka rantau bujang dahulu, di rumah paguno balun3,” Sirul memulai ceritanya.

Setamat Sekolah Teknologi Menengah di Pariaman, Sirul ikut sepupunya ke Jakarta.

Sepupunya sudah lima belas tahun di ibukota negara itu.

Bekerja sebagai sopir, dan kini sudah memiliki mobil sendiri.

Di Jakarta, Sirul disuruh berdagang di kaki lima, setelah ijazah Teknik Mesin yang dipegangnya tidak ada yang mau menerima.
Ia berdagang saputangan. Tiga sepuluhribu.

“Barulah aku merasakan, ternyata memang sulit mencari uang,” katanya menekankan kata sulit dengan menghadapkan muka ke arah Amri.

“Sehingga aku berpikir, alangkah tidak manusiawinya kalau sudah besar, kita masih tinggal di rumah dan membebani orangtua,” tambahnya.

“Kenapa begitu Rul?” tanya One pemilik lapau menyela pembicaraan itu.

“Begitulah Ne, badan sebesar ini kan sudah saatnya memberi kepada orangtua, tidak lagi menampungkan tangan. Malulah awak,” katanya sambil tersenyum dan sekali lagi melirik ke arah Amri.

Itulah yang membuat Amri tidak suka. Setiap kali ia bercerita, selalu melirik ke arah Amri.

Bagi Amri tentu saja dirinya merasa disindir. Merasa diperolok-olok sahabat kecilnya itu, karena memang sejak tamat sekolah yang sama dengan Sirul, ia tidak pernah menginjak kakinya di tanah rantau sebagaimana dilakukan Sirul.

Amri sebenarnya tidak terlalu iri dengan apa yang telah dilakukan Sirul dengan merantau.

Belum ada sesuatu yang istimewa diraih Sirul kecuali cerita yang tak berkesudahan tentang perantauannya.

“Lalu apa yang telah kamu dapatkan di rantau?” Tanya Amri suatu kali.

Pertanyaan itu ternyata tidak disukai Sirul.

“Banyaklah yang kau dapatkan, tidak seperti kamu yang hanya berani di kampung saja,” jawaban itu beraroma emosi dan itulah yang tidak disukai Amri dan ia merasa sudah ditonjok oleh kata-kata Sirul.

“Kamu mungkin hanya tahu gedung DPR itu dari televisi, sedangkan aku sudah berjalan-jalan di halamannya yang luas itu.”

“Kadang-kadang tempat itu dipenuhi mahasiswa yang melakukan aksi demo,” cerita Sirul dengan dagu sedikit diangkat.

Sirul tidak selesai begitu saja, kalau ia sudah merasa tidak suka dengan pertanyaan seseorang terhadap dirinya, Ia terus menceritakan apa saja yang ia ketahui tentang Jakarta.

Sepertinya ia tahu segalanya tentang kota metropolitan itu.

Padahal Amri sudah tahu tentang apa yang diceritakan Sirul dari banyak informasi yang ia peroleh melalui media massa.

“Pokoknya jauh bedalah dengan kampung kita. Hal itulah yang membuat pikiran kita terbuka untuk berusaha,” katanya lagi.

Sejak itu Amri agak jarang menemui Sirul, meski Sirul kadang-kadang memanggil dan mengajak dirinya pergi ke lapau One untuk sekedar minum kopi dan bersenda-gurau.

Sejak beberapa hari ini, Amri memang tidak sering bersama Sirul.

Tapi kegusaran mulai tumbuh dalam dirinya.

Cerita Sirul seakan-akan menampar dirinya yang tak pernah merantau.

Keinginan merantau sebenarnya sudah tumbuh lama dalam dirinya, tetapi keadaan orangtuanya yang sendirian telah mematahkan keinginannya untuk hidup di negeri orang.

Sampai Sirul kembali ke rantaunya, Jakarta, Amri masih diliputi kegusaran.

Ia seakan tertindih oleh keinginan merantau yang tak pernah tercapai.

Sehari-hari Amri menghabiskan waktu mengurus ayam-ayam yang dipelihara ibunya.

Kini ibunya tidak lagi mampu untuk mengurus ayam-ayam itu.

Kelumpuhan di usia lima puluh delapan tahun telah membuat ia harus meninggalkan pekerjaan itu.

“Bagi orang Minang, merantau memang kebanggan tersendiri Am. Tapi jangan kamu paksakan diri bila tak ada tempat berpijak bagi dirimu di tanah rantau.”

“Kamu akan terlunta-lunta di negeri orang,” kata ibunya suatu kali menjawab keinginan Amri.

“Sirul tidak bisa kau turutkan, ia punya saudara yang banyak di rantau dan tidak ada yang dikhawatirkannya bila tidak mendapat pekerjaan, sedangkan kamu tidak punya siapa-siapa di negeri orang.”

“Kau anak tunggal, bapakmu almarhum juga tidak punya saudara yang merantau jauh ke negeri orang.”

“Sedangkan ibu, sama seperti kamu Am, anak tunggal yang tak punya saudara lain selain orangtua.”

“Tapi Amri malu juga Bu, karena tidak pernah mencoba merantau, bukankah semasa bujang ini adat kita menganjurkan Amri untuk merantau?” ujar Mari mencoba mempertahankan keinginannya.

“Malu? Malu mana kamu bila kamu pergi merantau, ibu tidak terurus di rumah ini dan kalau ibu meninggal tidak ada yang tahu,” kata ibu Amri dengan suara yang sudah mulai berubah serak.

Amri hanya terdiam dan sesaat kemudian beranjak dari hadaan ibunya.

Menyembunyikan wajahnya yang juga mulai dihinggapi perasaan iba. Menangis.

**

Azan Magrib mengejutkan Amri dari lamunan.

Lamunan panjangnya di balai-balai belakang rumah yang tidak jauhan dari kandang ayamnya.

Lamunan panjang tentang kata-kata ibunya dan keinginannya untuk merantau yang selalu kandas.

Juga tentang nasib ibunya yang tidak jauh berbeda dengan dirinya.

Puluhan pertanyaan telah menghantui diri Amri ata apa yang akan dilakukannya dengan merantau.

Tegakah ia pada ibunya yang sekarang sedang sakit?

Tegakah dirinya membiarkan orangtuanya itu tinggal sendirian di rumah?

Pertanyaan-pertanyaan itu menghujani pikiran mudanya. Pertanyaan itu meresahkan.

Amri beranjak dari duduknya. Ayam-ayam sudah masuk denan sendirinya ke kandang yang belum ditutup.

Amri tinggal menutup dan menambah makanannya setelah ayam-ayam itu dipastikan berada di dalam kandang.

Agak terlambat Amri sampai di surau, tetapi ia tidak terlalu ketinggalan.

Ia sampai saat makmum sednag mengamini bacaan imam yang selesai membaca surat Al Fati’ah.

Ia masih mendapatkan barisan terdepan yang belum penuh, karena memang tidak banyak jemaah yang melaksanakan shalat di surau itu, itupun kebanyakan kaum tua.

Amri tidak langsung beranjak pulang ketika imam sudah selesai membaca doa selesai shalat dan dzikir. Ia duduk tafakur.

Ia tidak sendirian, di sebelahnya ada Pak Udin, guru mengaji di surau itu dan sering menjadi imam jika Tuanku berhalangan hadir di surau.

Pak Udin juga sering merangkap menjadi garin, membersihkan surau dan menungguinya.

“Apa yang membuat kamu bermenung, Am?” Tanya Pak udin ketika melihat Amri lebih banyak bermenung.

Agak terkejut Amri mendapat sapaan itu.

“Nggak ada Pak,” kata Amri yang sedikit dengan senyuman.

Tapi Pak Udin tidak begitu saja percaya dengan jawaban Amri.

Ia melihat perubahan di wajah Amri yang pernah ia ajari mengaji itu.

“Tak perlu berdusta, mukamu penuh kabut, kamu pasti sedang memikirkan sesuatu dan itu sangat berat,” kata Pak Udin sembari mendekati duduk Amri.

Amri hanya tertunduk dengan tebakan yang tidak salah itu.

“Kamu perlu orang untuk membicarakan persoalanmu, tidak cukup dengan sekedar merenunginya saja.”

“Sebab merenung itu sering tidak memiliki solusi,” lanjutnya.

Amri menceritakan tentang hal yang membuat dirinya bermenung dan tak nyaman itu.

Tentang kegalauannya sebagai orang Minang yang dianjurkan merantau tetapi tidak bisa dilaksanakannya karena keadaan.

Tentang kawannya yang setiap pulang selalu menyindir dirinya yang tak mau merantau.

“Saya bukan tidak mau merantau Pak.”

“Bapak rasa keputusanmu tepat.”

“Maksud Bapak?”

“Bila saya dalam posisi kamu, saya juga tidak akan memaksakan diri untuk merantau.”

“Tapi, saya malu Pak, sebagai orang Minang aku tidak bisa membanggakan karena aku tidak lengkap dengan pengalaman merantau.”

Sesaat keduanya terdiam. Pak Udin menatap tajam wajah Amri.

“Saya juga tidak memiliki kebanggaan di kampung ini, kami orang habis Pak. Tidak punya saudara lain,” kata Amri memecahkan kesunyian sesat itu.

“Lalu, apa yang kamu cari ke rantau?” Pak Udin seperti menemukan celah menanyai Amri.

“Kebanggaan Pak, kebanggan sebagai orang Minang,” jawabnya singkat.

“Sekarang kamu tidak bangga? Meski kamu telah membantu orangtuamu yang saat ini berada dalam keadaan sakit?”

“Dan telah menghabiskan sebagian besar waktumu untuk mengurusi orangtuamu. Sebuah pengabdian yang belum dimiliki oleh teman-teman sebayamu.”

“Seharusnya kamu jauh lebih bangga dengan dirimu Am, jauh dari kebanggan yang dimiliki kawan-kawanmu di rantau yang kadang hanya klise,” kata Pak Udin.

“Dan kamu tidak akan pernah memiliki waktu untuk membantu orangtuamu bila kamu berada di rantau seperti teman-teman saat ini.”

“Uang tidak menjamin kebahagiaan orangtua, tetapi pengabdian yang tulus adalah harapan yang selalu diimpikan orangtua dan kamu telah melakukannya,” tambah Pak Udin.

Pembicaraan mereka terhenti ketika saat shalat Isya masuk.

Amri melanjutkan shalat berjamaah bersama Pak Udin dengan jemaah yang sudah berkurang dari shalat Magrib sebelumnya.

Usai shalat Isya, Amri terus pulang dengan sebuah jawaban di hatinya.

“Aku harus membahagiakan orangtuaku”.

Palembang-Batam, April 2003

Keterangan:
1 Lapau : kedai kopi
2 palanta : tempat duduk
3 karatau madang di hulu, babuah babungo balun, ka rantau bujang dahulu, di rumah paguno balun: pantun yang menyatakan kerantau bujang dahulu, di rumah belum berguna

Diterbitkan oleh

nandarson

penulis, kartunis, jurnalis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s